Seunuddon

Mane Kawan

Minggu, 28 November 2010

umayyah

Masa Kejayaan Daulah Umayyah 1. Perkembangan Kota dan Seni Bangun Ketika Al-Dakhil berkuasa, Cordova menjadi ibu kota Negara. Ia membangun kembali kota ini dan memperindahnya, serta membangun benteng di sekeliling kota dan istananya.Sepeninggal al-Dakhil, Cordova terus berkambang dan menjadi salah satu kota terkemuka di dunia.Peninggalan al-Dakhl yang kini masih tegak berdiri adalah Masjid Jami Cordova. Pada masa Hisyam1 di mana ia memugar kembali jembatan tua yang dibangun oleh al-khaulani, di samping menambah bangunan-bangunan megah dan taman-taman yang indah. Pemugaran selanjutnya dilakukan pada masa Al-Mustanshir dan Al-Manshur. Pada masa Al-Mustanshir dan Al-Mu’ayyah yang merupakan perkembangan paling pesat yang terjadi pada saat itu dimana pusat kota yang dikelilingi oleh tembok dengan tujuh pintu gerbangnya, pada waktu itu sudah berada di tengah, karena berkembangnya daerah pinggiran di sekitarnya. Kebanggaan Cordova tidak lengkap tanpa: a. Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun oleh Ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa orang penggantinya. b. Al-Rushafah Adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun al-Dakhil di sebelah barat laut Cordova. Istana ini mencontoh bentuk istana dan taman Rushafah yang pernah dibangun oleh nenek moyangnya di Syria. c. Masjid Jami’ Cordova d. Jembatan Cordova e. Al-Zahrar Dibangun al-nashir di sebuah bukit di pegunungan Sierra Morena sekitar tiga mil di sebelah utara Cordova.Kemegahan al-Zahra hampir menyamai al-Qashr al-kabir. Termasuk keistimewaan al-Zahra ialah kolam-kolam marmer buatan Konstantinopel berukir aneka macam bentuk, sebagian diantarannya berlapis emas. Kecuali membangun al-Zahra, al Nashir membangun saluran air yang menembus gunung sepanjang 80 km, karena Wadi al-Kabir yang mengaliri al-Zahra dan Cordova pada musim kemarau airnya tidak bisa diminum f. Al-Zahirah Dibangun Al-Manshur di pinggir Wadi Al-Kabir, tidak jauh dari Cordova. Di dalamnya dibangun istana besar dan indah tempat kediaman al-Manshur, gedung-gedung pemerintahan, gudang makanan dan gudang senjata, tempat tinggal para menteri, perwira militer, dan pegawai tinggi lainnya. Sebagaimana halnya al-Zahra, al-Zahirah dilengkapi taman-taman indah, pasar-pasar, toko-toko, masjid-masjid, dan bangunan umum lainnya. Perkembangan Mal-Zahirah begitu pesat, sehingga pada satu sisinya kemudian bersambung dengan Cordova, sedang sisinya yang lain bersambung dengan al-Zahra yang dalam perkembangan selanjutnya telah menjadi bagian depan kota Cordova. 2. Perkembangan Bahasa dan Sastra Arab Bahasa Arab masuk ke Andalusia bersamaan dengan masuknya Islam ke daratan itu. Syalibi yang mengutip keterangan Nicholson menyatakan bahwa pada permulaan abad IX M bahasa Arab sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Sejalan dengan perkembangan bahasa Arab, berkembang pula kesusastraan Arab yang dalam arti sempit, disebut adab, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Diantar jenis prosa adalah khithabnah, tarrasul, maupun harta fiksi lainnya. Menurut Amer Ali”Orang –arang Arab Andalusia adalah penyair-penyair alam. Mereka menemukan bermacam jenis puisi, yang kemudian dicontoh oleh orang-orang Kristen di Eropa selatan. Di antara sastrawan terkemuka Andalusia adalah: a. Abu Amr Ahmad ibn Muhammad ibn Abd Rabbih Ia menekuni ilmu kedokteran dan musik, tetapi kecenderungan lebih banyak kepada sastra dan sejarah. Ia semasa dengan empat orang khalifah Umayyah yang bagi mereka telah ia gubah syair-syair , sehingga ia memperoleh kedudukan terhormat di istana. b. Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid Baik prosa maupun puisi, hanya beberapa potong saja yang ditemukan c. Ibn Hazm orang penyair sufi yang banyak mengubah puisi-puisi cinta. Puisi-puisi yang dihimpun dalam antologi Permata seorang dara, berisi gambaran aspek-aspek percintaan dari pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain d. Muluk al-thawaif dianggap penyair paling besar di Andalusia ada masa itu Seirama dengan perkembangan syair, berkembang pula musik dan seni suara.Hasan Ibn Nafi’ yang lebih dikenal dengan panggilan Ziryab mempunyai keahlian dalam seni musik dan tarik suara, pengaruhnya masih membekas sampai sekarang, bahkan dia dianggap peletak dasar dari musik Spantol modern. 3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pemisahan Andalusia dari Bagdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transmisi keilmuan dan peradaban antara keduanya.Banyak muslimi Andalusia yang menuntut Ilmu di negeri Islam belahan timur itu, dan tidak sedikit pula paa ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia. Kebanyakan umat Islam menganut paha Maliki di mana dasar pemikiran hukumnya adalah hadits. Perhatian muslim Andalusia terhadap hadits Rasulullah SAW. amat besar pada waktu itu. Mahzab ini diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad ibn Abd al-Rahman Ibn Ziyad al-lahmi.Tokoh lain yang tidak kalah populernya dalam pengembangan ilmu fiqih ialah Abu Bakar Muhammad ibn Marwan ibn Zuhr. Ilmu agama yang berkembang amat pesat adalah Ilmu Qira’at, yaitu ilmu yang membahas fadh-lafadh Al-Qur’an yang baik dan benar. Abu Amr al-Dani Utsman ibn Said adalah ulama ahli Qira’at kenamaan dari Andalusia yang mewakili generasinya. Sejalan dengan perkembangan filsafat, berkembang pula ilmu-ilmu lain. Ilmu pasti yang banyak digemari bangsa Arab berpangkal dari buku India Sinbad yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-Fazari. Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak terlepas kaitannya dari kerja sama yang harmonis antara penguasa, hartawan dan ulama. Umat Islam di Negara-negara Islam pada masa itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan umumnya, merupakan salah satu kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan-perpustakaan, di samping mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah dan perpustakaan, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan pribadi, banyak dibangun di berbagai penjuru Kerajaan, sejak dari kota-kota besar hingga ke desa-desa. Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hampir tidak ada seorang pun penduduknya yang buta huruf. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban Arab mengalir ke negara-negara Eropa Kristen, melalui kelompok-kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di Universitas Cordova, Malaga, Granada, Sevilla atau lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya di Andalusia.

Tidak ada komentar: