Seunuddon

Mane Kawan

Minggu, 28 November 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa menghindar diri berhubungan dengan orang lain, dalam berkomunikasi interpersional dan komunikasi intrapersonal, sebagai makhluk psikologis manusia bukan hanya memotret tampak, tetapi juga mempersepsi yang tampak dengan perangkapt kejiwaannya sehingga perfomence seseorang tidak hanya di pahami dari yang tampak. Tetapi juga dari yang di duga di balik tampak, orang kebanyakan, memang suka menempatkan penampilan luar. Sebagai ukuran, tetapi bagi orang yang terpelajari dan beradab, yang paling utama dari kualitas manusia adalah kredibilitas akhlaknaya, kredibilitas moralnya, dan ukuran itulah yang di perhitungkan dalam transaksi sosial. Kreabilitas akhlak yang di miliki oleh seseorang akan menjadi kekuatan yang sangat kuat dan memudahkan di dalam berorganisasi dan berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai urusan untuk mengetahui lebih dalam tentang akhlak maka sebaiknya terlebih dahulu kita harus mengerti dan paham tentang pengertian akhlak, perkembangan pemikiran tentang akhlak. BAB II Perkembangan Pemikiran Tentang Akhlak A. Pengertian ilmu akhlak Ilmu akhlak adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku mmanusia baik itu bernilai bai, mulia, terpuji atau sebaliknya, yakni buruk, hina, dan tercela. B. Perkembangan pemikiran tentang akhlak Sejarah perkembangan akhlak di telusuri dari aspek kebangsaan, dapat di jelaskan sebagai berkut: a. Akhlak pada masa Yunani: di tandai dengan munculnya phitician: orang-orang bijak sana. Dasar pemikirannya Rasionalistik, baik dan buruk di dasarkan pada pertimbangan akal pikiran, argumentasinyadi dasarkan pada filsafat tentang manusia (antropocentis) Terkait dengan kejiwaan manusia, akhlak adalah sesuatu yang fitri yang ada dalam diri manusia. Tokohnya : - socrates (469-399 SM) : membentuk pola hubungan antara manusia dengan ilmu pengetahuan. - Plato (427-347 SM): mengemukakan teori contoh : yaitu apa yang terdapat pada lahiriyah sebenarnya telah ada contoh sebelumnya yang ada dalam bayangan dari yang tidak tampak (alam rohani atau dalam ide) b. Akhlak pada bangsa Nasrani : pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa, agama ini telah mempenaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam kitab Taurat dan Injil. Dengan demikian ajaran akhlak pada agama Nasrani ini tampak bersifat Teo-Centri (memusat pada tuhan ) dan sufistik akhlak agama Nasrani yang di bawa oleh para pendeta berdasarkan ajaran Taurat ini sejalan dengan ajaran ahli-ahli filsafat Yunani. Menurut ahli-ahli filsafat Yunani bahwa pendorong buat melakukan perbuatan baik ialah pengetahuan dan kebijaksanaan, sedangkan menurut agama Nasrani bahwa pendorong berbuat kebaikan ialah cita dan iman kepada Tuhan berdasarkan petunjuk kitab Taurat. c. Akhlak pada bangsa Romawi (abad pertengahan) Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan di kuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah di terima dari wahyu. Oleh karena itu tidak ada kegiatan penelitian. Namun demikian sebagai dari kalangan gereja ada yang mempergunakan pemikiran Plato. Aristoteles dan stoice untuk memperkuatkan ajaran gereja dan mencocokkan dengan akal. Filsafat yang menentang agma Nasrani di buang jauh-jauh. Dengan demikian ajaran yang lahir di Eropa pada abat ajaran akhlak yang di bangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan Nasrani. d. Akhlak pada bangsa Arab Bangsa Arab pada zaman Jahiliyah tidak mempunyai ahli-ahli filsafat yag mengajak kepada aliran paham tertentu sebagaimana yang di jumpai pada bangsa Yunani dan Romawi, hal yang demikian sebagai akibat dari tidak berkembangnya kegiatan Ilmiah di kalangan masyarakat Arab. BAB III KESIMPULAN Definisi akhlak menurut salah satu ulama yaitu imam Ibu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshiddin bahwa akhlak merupakan ungkaoan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka di sebut akhlak yang baik, dan jika buruk maka di sebut akhlak buruk Manfaat akhlak dalam skala umat, maka akhlak islami akan menyediakan kekuatan dan peningkatan produk produktifitas kerja, keberkatan dan ridha Allah SWT, di hormati, di kagumi, di teladani dan di segani bangsa dan peradaban lain. Dan peningkatan akhlak islami ini secara secara langsung akan memajukan peradaban kaum muslimin. Sejarah perkembangan akhlak pada zaman Yunani socrates di pandang sebagai perintis Ilmu Akhlak. Karena ia yang pertama berusaha dengan sunguh-sungguh membentukj perhubungan manusia dengan ilmu pengetahuan. Dia berpendapat akhlak dan bentuk perhubungan itu, tidak menjadi benar kecuali bila di dasarkan ilmu pengetahuan. Lalu datang Plato (427-347 SM). Ia seorang ahhli filsafat Athena, yang merupakan murit dari Socrates. Buah pemikirannya dalam etika berdasarkan ‘teori contoh’. Ia berpendapat bahwa alam lain adalah alam rohani. Di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam-macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan dan tunduknya kepada hukum. Kemudian di susul Aristoteles (394-322 SM), dia adalah muridnya Plato. Pengikutnya di sebut Paripatetis karena ia memberi pelajaran sambil berjalan atau di tempat berjalan yang teduh. Sejarah akhlak pada bangsa Romawi (Abad pertengahan )pada abad pertengahan, etika bisa di katakan ‘dianianya’oleh gereja. Pada saat itu, gereja memerangi Filsafat Yunani dan Romawi, dan menenteng penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno, gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah di terima dari wahyu. Dan apa yang terkandung dan di ajarkan oleh wahyu adalah benar. Jadi manusia tidak perlu lagi bersusah-susah menyelidiki tentang kebenaran hakikat, karena semuanay telah di atur oleh Tuhan. Sejarah akhlak pada bangsa Arab sebelum Islam bangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli filsafat yang mengajak kepada aliran atau faham tertentu sebagaimana Yunani, seperti Epicurus, Zeno, Plato, dan Aristoteles. Hal itu terjadi karena penyelidikan ilmu tidak terjadi kecuali di negara yang sudah maju. Waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-¬ahli hikmat dan ssebagian ahli Syair. Yang memerintahkan kepda kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong menuju keutaman, dan menjauhkan diri dari kerendahan yang terkenal pada zaman mereka. DAFTAR PUSTAKA Ardani, Moh., akhlak Tasawuf (Nilai-nilai akhlak / Budi Pekerti Dalam Ibadat dan Tasawuf ), (jakarta: PT Karya Mulia, 2005) Mostafa, A., Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka setia, 2005) Soleiman, Abjan, Ilmu Akhlak ( ilmu etika ), (Jakarta: Dinas Rawaan Rohani Islam Tentara Rasional Indonesia Angkaan Darat, 1976 ) Zahruddin, DKK, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada, 2004)

Tidak ada komentar: